Antonio Conte kembali memicu spekulasi panas mengenai masa depannya. Meski baru saja membawa Napoli meraih kemenangan krusial 1-0 atas AC Milan yang mengantar mereka ke posisi kedua klasemen Serie A, sang pelatih justru memberikan pernyataan mengejutkan yang mengisyaratkan keraguan atas masa depannya di Stadio Diego Armando Maradona.
Usai pertandingan tersebut, mantan pelatih Juventus dan Chelsea tersebut secara terbuka membuka pintu untuk kembali menangani Tim Nasional Italia. Pernyataan ini muncul di tengah rumor ketidakpastian hubungannya dengan manajemen Napoli memasuki musim panas 2026.
Pesan Terbuka untuk FIGC
Conte, yang pernah memimpin Gli Azzurri mencapai perempat final Euro 2016 dengan skuat yang dianggap terbatas, tampaknya masih memiliki ambisi yang belum tuntas bersama negaranya.
Dengan nada percaya diri khasnya, ia memberikan saran langsung kepada Federasi Sepak Bola Italia (FIGC).
Baca juga: Allegri Tanggapi Rumor Timnas Italia: "Fokus Saya Hanya AC Milan"
“Media harus menulis sesuatu, dan sudah sepatutnya nama saya muncul dalam daftar itu. Jika saya adalah Presiden FIGC, saya akan mempertimbangkan nama saya bersama dengan yang lain. Karena banyak alasan, saya akan memasukkan Conte dalam daftar itu,” kata Conte.
“Lagipula, saya sudah pernah bekerja dengan tim nasional dan saya tahu lingkungannya. Saya merasa tersanjung, karena mewakili negara Anda adalah sesuatu yang luar biasa.”
Isyarat Perpisahan dengan Napoli?
Meskipun Conte terikat kontrak dengan Napoli hingga 2027, ia mengakui bahwa masa depannya di Campania belum sepenuhnya pasti. Walaupun baru saja membawa stabilitas ke skuad Napoli, pria berusia 56 tahun itu mengisyaratkan akan segera melakukan pembicaraan krusial dengan sang pemilik klub, Aurelio De Laurentiis.
“Jangan lupa bahwa tahun lalu, dalam tiga bulan terakhir musim, ada pembicaraan di media bahwa saya akan meninggalkan Napoli untuk pergi ke Juventus, kan?” jelas Conte.
“Kalian semua tahu betul bahwa saya masih memiliki satu tahun tersisa dalam kontrak saya dengan Napoli dan bahwa di akhir musim saya akan duduk bersama Presiden untuk membahasnya.”
Sosok Penyelamat di Tengah Bencana
Periode pertama Conte menukangi Azzurri (2014–2016) masih diingat dengan sangat baik, terutama saat ia mampu membawa skuad yang dianggap tidak diunggulkan melaju hingga perempat final Euro 2016. Sejak saat itu, sepak bola Italia mengalami pasang surut yang ekstrem, dari euforia Euro 2020 hingga keterpurukan bersejarah gagal lolos ke Piala Dunia.
“Sangat mengecewakan bahwa jika kami memenangkan adu penalti melawan Bosnia dan lolos ke Piala Dunia, orang-orang akan membicarakan pencapaian besar dan Italia memainkan sepak bola yang hebat. Sayangnya, hanya hasil yang dihitung dalam olahraga ini sekarang,” ujar Conte.
“Namun, setelah tiga Piala Dunia berturut-turut, sesuatu yang serius perlu dilakukan. Ketika saya menjadi pelatih, banyak pembicaraan, tetapi saya mendapat sedikit bantuan dari klub-klub.
Baca juga: Inzaghi Yakin Sepak Bola Italia Akan Bangkit, Tapi Tutup Pintu Jadi Pelatih Azzurri
“Sekarang semuanya dilihat sebagai bencana, tetapi bahkan dalam bencana, selalu ada sesuatu yang dapat diselamatkan. Kita harus memahami bahwa jika sesuatu tidak berjalan dengan baik, maka keadaannya akan tetap sama, baik kita lolos atau tidak. Jika kita lolos, orang-orang yang sama yang mengkritik akan menyebutnya sebagai kemenangan.
“Kita semua peduli dengan Nazionale dan sesuatu harus dilakukan.”
Perebutan Kursi Pelatih
FIGC diperkirakan baru akan mengambil keputusan final setelah pemilihan presiden federasi pada 22 Juni mendatang.
Meski nama-nama seperti Massimiliano Allegri dan Roberto Mancini tetap masuk dalam bursa, komitmen Allegri di Milan dan kenangan pahit hengkangnya Mancini ke Arab Saudi pada 2023 membuat Conte menjadi kandidat terkuat.