Pelatih kepala Juventus yang juga mantan pelatih tim nasional Italia, Luciano Spalletti, memberikan pernyataan menyentuh terkait pengunduran diri Gennaro Gattuso dari kursi kepelatihan tim Azzurri. Gattuso memutuskan mundur setelah Italia secara tragis menelan kekalahan dari Bosnia dan Herzegovina dalam laga final play-off Piala Dunia 2026, Kamis lalu.
Kekalahan di Zenica tersebut memastikan Italia akan absen di putaran final Piala Dunia untuk ketiga kalinya secara berturut-turut, sebuah catatan kelam yang mengguncang fondasi sepak bola Negeri Pizza tersebut.
Simpati dari Spalletti
Spalletti, yang juga merasakan pahitnya tekanan saat melatih tim nasional sebelum pindah ke Juventus, mengaku bahwa pikiran pertamanya setelah peluit panjang dibunyikan langsung tertuju pada rekan sejawatnya itu.
"Saat pertandingan melawan Bosnia berakhir, saya bersumpah, saya menempatkan diri saya di posisi Gattuso. Pikiran pertama saya langsung tertuju padanya," ujar Spalletti.
Baca juga: Allegri Tanggapi Rumor Timnas Italia: "Fokus Saya Hanya AC Milan"
Spalletti menekankan bahwa kegagalan ini bukan mencerminkan kualitas Gattuso sebagai pelatih, melainkan lebih kepada kejamnya situasi yang harus dihadapi di kursi panas tim nasional. Ia memuji karakter Gattuso sebagai sosok yang jujur dan penuh gairah.
"Dia adalah orang yang baik, dia punya gairah, dan dia memiliki semua kualitas untuk menjadi salah satu pelatih terbaik di dunia," tambah Spalletti. "Saya berkata pada diri sendiri: 'Jika saya masih di sana dan hal itu terjadi pada saya di lingkungan itu, di stadion itu, saya benar-benar tidak akan bisa keluar darinya'."
Spalletti juga menyinggung bagaimana tipisnya batasan antara kesuksesan dan kegagalan dalam sepak bola internasional. Menurutnya, jika peluang emas seperti yang didapat Moise Kean berbuah gol, narasi media saat ini pasti akan sangat berbeda.
Masalah Sistemik di Balik Kegagalan
Selain memberikan simpati, Spalletti juga menyoroti masalah yang lebih besar dalam sepak bola Italia, yakni kurangnya kesempatan bagi talenta muda lokal di Serie A.
Ia mencontohkan pertandingan antara Udinese dan Como baru-baru ini, di mana dari 33 pemain yang terlibat, hanya dua yang berkebangsaan Italia.
“Itu masalah fundamental karena kita harus mencoba melindungi talenta kita. Saya tidak ingin memberi nasihat, tetapi kita tidak bisa melakukannya sendiri,” tegasnya.
Salah satu solusi yang kencang dibicarakan adalah jumlah minimum pemain Italia diturunkan dalam setiap pertandingan Serie A, tetapi Spalletti mengakui bahwa saran ini mungkin sulit untuk diterapkan.
“Saya akan memberi Anda contoh. Bagaimana jika Anda memiliki pemain U19 yang bermain di setiap tim Serie A?,” jelas Spalletti.
Baca juga: Sinyal Reuni di Timnas Italia, Conte Buka Pintu Kembali Tukangi Azzurri
“Kita akan terpaksa memiliki empat pemain yang tersedia hanya untuk memainkan satu, dan kemudian bagaimana? Saya pergi dan menonton para pemain itu beberapa tahun sebelumnya karena kita membutuhkan mereka, tetapi kemudian siapa yang benar-benar berhasil? Anda mungkin tidak mendapatkan satu pun dari Juve, tetapi Anda mungkin mendapatkan satu yang muncul dari Cremonese. Saya membutuhkan seseorang yang tidak membiarkan level permainan menurun.”
Menuju Era Baru
Dengan mundurnya Gattuso, Italia kini harus mencari pelatih ketiga mereka dalam kurun waktu satu tahun.
Sementara itu, Spalletti tetap fokus pada misinya bersama Juventus, namun komentarnya menunjukkan bahwa luka akibat kegagalan Nazionale masih dirasakan dalam oleh mereka yang pernah berada di pusat badai tersebut.
“Tim nasional kita kuat, mereka menunjukkannya kepada Anda di bawah Gattuso dan sejauh yang saya ketahui, dia membuat pilihan yang tepat,” ucapnya.
“Insiden-insiden ini telah menentukan segalanya, bukan berarti kita adalah yang terburuk di dunia saat ini. Interpretasi pertandinganlah yang membuat perbedaan. Sepak bola adalah permainan yang penuh insiden.”