Bek Arsenal, Riccardo Calafiori, akhirnya buka suara terkait kepedihan mendalam yang menyelimuti sepak bola Italia setelah kegagalan tragis menembus Piala Dunia 2026. Berbicara usai membela klubnya di Liga Champions tengah pekan ini, pemain berusia 23 tahun itu mencoba meluruskan perdebatan taktis yang sempat memojokkan pelatih Gennaro Gattuso.
Italia dipastikan absen dari Piala Dunia untuk ketiga kalinya secara beruntun setelah kalah melalui adu penalti melawan Bosnia-Herzegovina di babak play-off pekan lalu. Dalam laga penentuan di Zenica tersebut, Gattuso menurunkan skema tiga bek, menempatkan Calafiori berdampingan dengan Gianluca Mancini dan Alessandro Bastoni, sebuah keputusan yang dikritik banyak pihak karena dinilai terlalu kaku.
Bukan Masalah Taktik
Calafiori tidak menampik bahwa secara pribadi, ia memiliki kenyamanan lebih saat bermain dalam sistem empat bek, peran yang ia jalani secara reguler di bawah asuhan Mikel Arteta di Arsenal. Namun, ia dengan tegas menolak anggapan bahwa pilihan formasi Gattuso adalah biang keladi kegagalan Azzurri.
Baca juga: Donnarumma Bantah Kontroversi Bonus dan Beri Penghormatan untuk Gattuso
Alessandro Costacurta bertugas sebagai komentator di studio Sky, menyoroti semua tim yang berkompetisi di perempat final Liga Champions menggunakan formasi empat bek, sementara di Italia dan tim nasional, formasi tiga bek tetap menjadi salah satu sistem yang lebih populer.
“Saya tidak pernah memikirkannya, saya tidak tahu harus berkata apa tentang itu. Saya merasa lebih nyaman dalam formasi empat bek, baik sebagai bek tengah maupun bek sayap. Tetapi jika Anda berpikir itu adalah alasan mengapa pertandingan (melawan Bosnia) berjalan buruk, saya rasa bukan itu masalahnya,” tegas Calafiori.
Masih Merasa Kecewa
Calafiori juga memberikan pembelaan bagi Gennaro Gattuso, yang baru saja mengundurkan diri dari kursi kepelatihan Jumat lalu menyusul kepergian Presiden FIGC Gabriele Gravina dan Gianluigi Buffon.
Menurut mantan bek Bologna tersebut, dedikasi Gattuso selama beberapa bulan terakhir sangatlah luar biasa. Calafiori bahkan sempat berkelakar bahwa Gattuso lebih sering meneleponnya daripada ibunya sendiri demi memastikan para pemain tetap termotivasi di tengah tekanan besar kualifikasi.
“Saya rasa kekecewaan ini akan tetap ada untuk beberapa waktu, tetapi begitulah sepak bola. Saya lebih suka bermain sebagai starter karena tidak ada hal lain yang perlu dipikirkan saat berada di lapangan. Anda mencoba memberikan yang terbaik, ada tujuan besar yang harus diperjuangkan,” ujar Calafiori.
“Saya rasa kekecewaan itu tetap ada di dalam diri saya, tetapi saya berharap dapat mencapai sesuatu yang besar bersama Arsenal di akhir musim.”
Baca juga: Presiden Napoli Siap Lepas Conte ke Timnas Italia
Fokus pada Perburuan Gelar
Dengan berakhirnya impian internasional untuk musim panas ini, Calafiori kini mengalihkan fokus penuhnya ke London Utara. Arsenal saat ini tengah berada dalam persaingan sengit untuk gelar Premier League dan baru saja mengamankan kemenangan krusial atas Sporting CP di Liga Champions.
Bagi publik Italia, komentar Calafiori adalah pengingat bahwa di balik krisis kepemimpinan federasi, para pemain pun merasakan beban sejarah yang sama beratnya. Kini, dengan mundurnya trio kepemimpinan di tim nasional, revolusi total nampaknya menjadi satu-satunya jalan keluar bagi sang juara Eropa empat kali tersebut.